Kamis, 03 Maret 2016

Peristiwa Kecil yang Membuat Bahagia

Siang itu aku putuskan untuk berhenti sejenak dari aktivitas rutin yang sudah mulai membuatku jenuh. Ya, aku berada di titik jenuh yang sudah tidak bisa ditolerir lagi. Aku memilih berjalan-jalan ke alun-alun kota sambil menunggu waktu sholat ashar. Aku rencanakan untuk sholat di masjid jami’ alun-alun dengan harapan aku bisa lebih kusyuk dan berdoa agar Allah swt. memberiku petunjuk untukku melangkah dalam hidup ini.

Saat itu alun-alun belum terlalu ramai hingga aku melangkah ke masjid saat adzan ashar berkumandang. Aku ambil air wudhu, air yang segar itu membasahi wajahku. Ada yang menyegarkan dan pikiranku lebih tenang. Kujalani sholat ashar dan setelahnya aku berdoa seperti yang aku rancang sebelumnya: Mengharap Allah stw. Memberiku petunjuk.

Usai sholat ashar aku memilih sudut teras masjid yang memberiku kesempatan memandang alun-alun kota. Suasana sudah mulai ramai mejelang sore. Berbagai keramaian, dari hilir mudik pasangan muda-mudi, pasangan paruh baya yang masih terlihat kemesraannya, hingga lansia yang masih saling setia menggandeng tangan satu sama lain saling menjaga. Ada juga beberapa rombongan keluarga, komplit : orangtua dan anak-anak mereka. Dalam hati aku berpikir: Bisakah aku bahagai seperti mereka? Terdengar melankolis memang, tapi kenyataannya saat itu kebahagiaannku seperti jauh hilang entah kemana.

Di keramaian yang nampak, tiba-tiba aku terfokus pada pemandangan pasangan suami istri yang merumput bersama anak balitanya. Keluarga kecil itu tampak ceria. Si kecil yang sedang belajar berjalan secara bergantian ia melangkah menuju ayahnya, kemudian ganti menuju ibunya dengan riang gembira. Sesekali kakinya yang belum kuat benar berjalan itu tertekuk membuatnya jatuh, tapi apa yang terjadi? Anak itu malah tertawa dan segera berusaha bangkit dan melangkah lagi menuju ayah dan ibunya yang merentangkan tangan untuk menyambut anaknya. Orangtua sang anak juga tampak tertawa penuh bahagia menyaksikan anaknya yang beberapa kali jatuh dan bangun lagi dengan terus memberi dukungan agar sang anak tidak putus asa latihan berjalan.melihat itu aku menjadi ikut gembira.

Seketika itu aku berpikir, Apakah saat aku kecil juga seperti anak itu? Latihan berjalan dengan semangat meski beberapa kali jatuh dan orangtuaku selalu mendukungku agar aku tidak putus asa berlatih? Berarti saat kecil aku sudah menjadi orang yang hebat, bergembira dengan terus belajar tanpa berputus asa. Memberi kebahagiaan bagi semua orang di sekitarku. Orangtuaku tentu mengajari aku agar menjadi orang yang kuat. Lalu, mengapa beberapa hari ini aku hampir menyerah dan putus asa?

Lelah dan jenuh bekerja, mengurus anak, berhubungan dengan orang lain adalah aktivitas yang memang wajar terjadi dalam kehidupan. Harusnya aku tidak putus asa meski kelelahan menghampiri dengan sangat. Harusnya aku bersyukur dipercaya dengan berbagai amanah untuk kujalankan.


Alhamdulillah, peristiwa kecil sore itu adalah kehendak Allah yang memberiku petunjuk untuk bahagia menjalani hidup.kejenuhanku hilang dan rasa bahagia itu kembali kurasakan. Memang benar, Allah bisa jadi memberikan kebahagiaan dari peristiwa di depan kita, sekalipun itu peristiwa kecil, seperti yang kualami ini.[]

Rabu, 02 Maret 2016

Hiduplah Tanpa Rasa Kecewa

Kecewa memang salah satu isi kehidupan. Tapi jika meladeni kecewa selalu mampir di kehidupan kita maka kita akan terus tersiksa dan tidak bahagia. Oleh sebab itu, jangan terlalu sering kecewa dengan apa yang kita peroleh.

Pada waktu kita mendapatkan nikmat dari Allah, ternyata kita masih sering merasa kurang. Dalam bekerja kita merasa pekerjaan kita melelahkan, gaji sedikit, jabatan tidak naik-naik. Di rumah juga demikian, kita merasa sering tidak cocok dengan pasangan kita, merasa anak-anak kita kurang pandai, kurang berbakti, dan sebagainya.Nah, semua rangkaian keluhan itulah yang membuat kita tidak bersyukur yang akhirnya kita merasa kecewa.

Jangan merasa kecewa dengan apa yang kita peroleh. Coba kita berpikir ulang! Apa yang kita pikirkan pada saat mencari pekerjaan? Pasti yang terpikir adalah yang penting dapat pekerjaan…. Kita tidak berpikir apakah pekerjaan itu akan membuat kita lelah, kapan gaji naik, kapan jabatan lebih tinggi. Dapat pekerjaan saja kita sudah puas dan bersyukur. Iya kan? Saat itu kita bisa bersyukur karena masih banyak yang belum mendapat pekerjaan atau bahkan yang tidak mampu bekerja.

Kemudian saat kita mencari jodoh juga demikian. Cukup kita dapat dan sampai di pelaminan kita sudah sangat bersyukur. Kita tidak pernah berpikir apakah nanti kita akan ada pertengkaran, ketidakcocokan, dan sebagainya. Saat itu kita bersyukur karena masih banyak yang menunggu jodoh atau bahkan ditinggal pasangannya.

Juga saat kita berada di detik-detik menunggu anak kita lahir. Anak kita lahir dengan selamat saja kita sudah sangat bersyukur dan bahagia. Kita tidak pernah berpikir ranking berapa dia saat sekolah nantinya, sepintar apa anak kita, sebaik apa anak kita, dan sebagainya. Saat itu kita bersyukur karena masih banyak yang menunggu momongan atau bahkan kehilangan buah hati.


Hiduplah tanpa rasa kecewa! Jangan merasa kecewa dengan apa yang kita peroleh. Itulah mengapa dalam doa sehari-hari, kita tidak hanya sibuk meminta kepada Allah swt. tetapi kita juga perlu mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah swt. dalam hidup kita tidak hanya melihat kekurangan tapi kita juga realistis dengan kelebihan-kelebihan disekeliling kita.[]

Selasa, 01 Maret 2016

Belajar dari Pipa

Musim hujan seperti sekarang ini biasanya memberi pemandangan pada kita banyak saluran-saluran air yang meluber. Diperiksa pipanya, ternyata pipa atas tidak ada sumbatan apapun, pun dengan pipa bagian bawah tidak ada sumbatan. Tidak ada sumbatan apapun di pipa tapi mengapa air itu meluber? Ternyata, air bisa meluber dikarenakan hujan, sedangkan pipa tidak muat.

Nah, begitupun dalam kehidupan sehari-hari. Acapkali kila mencari-cari masalah, mencari-cari penyebab, mencari-cari hambatan yang sebenarnya tidak ada sama sekali hambatan atau masalah. Saat resah kita menyalahkan keadaan, sibuk menyalahkan orang lain saat tertimpa kesulitan, menyalahkan alat saat kerja kita bermasalah, dan sejenisnya. Padahal sebenarnya semua yang kita tuduh sebagai hambatan-hambatan itu semuanya baik-baik saja. Kembali kepada diri kita. Hanya lantaran kita yang kurang belajar, sehingga kapasitas kita kurang untuk menampung semua hal itu sehingga yang terjadi adalah melubernya masalah demi masalah yang ada. Kapasitas kita belum mampu untuk menampung semua itu


Ya, hanya karena kapasitas kita yang tidka mampu menampung persoalan yang tengah melanda. Bisa kita bayangkan jika pipa kita luas dan besar kapasitasnya. Tentu saja, apapun yang datang bisa tertampung dengan baik tanpa ada masalah yang berarti.[]

Kebahagiaan

Setiap manusia memiliki harapan yang dicita-citakan dalam kehidupannya. Setiap harapan yang dicita-citakan itu selalu diharapkan bisa terwujud. Namun pada kenyataannya, harapan-harapan kita yang jumlahnya sekian banyak itu yang terwujud hanyalah beberapa persen saja. Sebagai contoh seseorang yang saat kecil bercita-cita menjadi dokter, ternyata pada kenyataannya sekarang dia menjadi seorang guru. Dan nyatanya orang tersebut menjalani hidupnya menjadi guru itu dengan berbahagia.

Ternyata begitulah kehidupan ini berjalan. Kita harus belajar dari kehidupan yang kita alami. Semua yang diinginkan manusia itu tidak barang tentu akan dikabulkan oleh Allah swt. Saat harapan atau keinginan kita tidak sesuai dengan kenyataan, dan kita melewati semua itu, ternyata semuanya baik-baik saja.

Inilah bukti bahwa janji Allah swt. memilihkan yang terbaik untuk kita adalah janji yang memang pasti. Meskipun permintaan (doa) kita tidak dikabulkan tapi pada akhirnya kita bahagia. Namun, kita sering melupakan hal ini. ketika kita lupa kita sering protes kepada Allah swt. menganggap Allah swt.tidak adil atau menganggap Allah tidak mendengarkan doa-doa kita (naudzubillah).


Mari kita belajar dari diri kita sendiri, kehidupan yang terjadi pada diri kita adalah putaran-putaran dua sisi antara sesuai dengan tidak sesuai tentang harapan kita. Tapi kita harus yakin, bahwa yang terjadi adalah yang terbaik bagi kita dan itu akan membahagiakan kita. [] 

Sampai Mana Bangunan Kita

Banyak kebahagiaan yang bisa kita dapatkan dengan cara yang sederhana. Bangun tidur di pagi hari kemudian mengawali hari dengan rasa syukur kepada Allah swt. adalah salah satu cara sederhana untuk bisa mendapatkan kebahagiaan di sepanjang hari kita. Dengan syukur itu, kita tidak akan merasa ada yang mengganggu ketentraman hati kita.

Nah, meski sederhana, sejatinya mengawali hari dengan rasa syukur itu perlu iman dan kepercayaan yang kuat akan janji Allah swt. seperti yang kita tahu, Allah berfirman bahwa Dia akan menambah nikmat bagi manusia yang mau bersyukur. Janji ini Allah swt. yang buat, dan perlu keyakinan bahwa Allah swt. tidak akan pernah mengingkari janji-Nya.
Hal ini seiring dengan janji Allah swt. yang akan memasukkan orang-orang beriman ke dalam surga. Dan yang diinginkan manusia adalah agar terhindar dari neraka. Janji Allah swt. tentang surge ini membawa konsekuensi bagi manusia dalam bentuk aturan-aturan yang berupa larangan dan perintah. Nah, inilah mengapa selain iman seorang mukmin juga perlu takwa. Ibaratnya bangunan iman adalah pondasi, sedangkan hiasan-hiasan rumah adalah takwa.

Setelah beriman, maka hendaknya kita menghiasi iman kita dengan ketakwaan. Memperintah agama dengan mencintai yang baik meski tidak diwajibkan dan meninggalkan yang buruk meskipun sebenarnya itu tidak dilarang (hal makruh). Ini adalah takwa yang indah yang oenuh dengan ke-hati-hati-an.


Maka, sampai mana kita? sudahkan kita menghias rumah kita dengan takwa? Atau… ternyata kita masih sebatas membangun rumah kosong dengan pondasi saja?[]

Kamis, 31 Oktober 2013

Terimalah Karunia-Nya

Manusia diciptakan Allah swt. dengan potensi yang sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya. Saat hewan dan tumbuhan tidak dikaruniai akal, manusia justru menjadi unggul karena akal ini. Dengan akalnya manusia bisa mengelola bumi ini, mengembangkan ilmu pengetahuan dan menciptakan berbagai sarana untuk mempermudah aktivitas kehidupan.
Konon, manusia hanya mengenal kapal layar sebagai sarana transportasi jika ingin bepergian antar wilayah yang terpisahkan oleh perairan. Dengan tenaga angin kapal itu bisa membawa manusia menuju tempat tujuan. Tapi kini manusia bisa membuat bermacam-macam sarana untuk mobilisasi itu. Diciptakanlah kapal dengan tenaga mesin yang bisa memotorikkan kapal tanpa menunggu angin bekerja. Lebih lebat lagi, muncullah pesawat terbang sehingga manusia bisa terbang melintasi udara seperti burung untuk menuju suatu tempat.

Allah swt. memang menciptakan kehidupan ini dengan fitrahnya yang semuanya serba mungkin. Dengan akal, manusia diminta untuk berpikir dan terus mengembangkan pikirannya untuk perubahan menuju kebaikan dalam kehidupan ini. Dengan akalnya manusia bisa merencanakan kesuksesan-kesuksesan dalam hidupnya. Manusia bisa meraih kesuksesan itu.

Lalu bagaimana dengan manusia yang nasibnya selalu malang? Hidupnya terpuruk dan bergelimang dalam lumpur ketidakberdayaan. Gagal....Selalu begitu tanpa ada perubahan.

Allah swt. selalu bermaksud baik saat menciptakan apapun di dunia ini, termasuk saat menciptakan manusia. Tidak pernah ada manusia yang lahir dan dijatah Allah swt. bernasib buruk karena Allah swt. Maha Baik. nasib manusia yang menentukan adalah kekuatan ikhtiar manusia itu sendiri. Disebutkan bahwa Allah swt. tidak akan mengubah nasib manusia jika manusia itu tidak manu mengubah nasibnya. Sehingga, sebenarnya tidak ada alasan bagi manusia untuk terus bergelimangan dalam keterpurukannya. Sebaliknya, manusia mempunyai alasan kuat untuk bangkit di saat terpuruk, bangun ketika gagal dan terus berusaha mencapai kesuksesan.

Kapal layar bisa tergantikan oleh sarana yang lebih hebat adalah karena manusia mau berpikir dan mengembangkan pikirannya. Coba apa yang terjadi jika manusia malas menggunakan akalnya untuk mengembangkan transportasi kapal layar? Bisa sampai sekarang kita tidak akan kenal pesawat terbang sehingga kemana-mana dengan kapal yang memakan waktu relatif lama.




Jadi, kunci dari sebuah perubahan adalah pada manusia, bukan pada garis nasib. Jika manusia mau menerima dengan baik karunia Allah swt. yang berupa akal, maka manusia akan mampu membangun kehidupannya dengan baik. Namun, jika manusia tidak menerima dengan baik karunia-Nya sehingga bermalas-malasan, mudah menyerah dengan keadaan dan tidak mengoptimalkan akalnya untuk berikhtiar, maka perubahan itu akan sulit terjadi dalam hidup manusia. Sebagai manusia kita hendaknya sadar, bahwa karunia akal itu adalah karunia istimewa yang diberikan kepada manusia, makhluk hidup lainnya tidak mendapatkannya. Jadi, mengapa kita tidak menerima karunia terbaik yang berupa akal ini?[]  

Selasa, 29 Oktober 2013

Allah dalam Matematika

Teringat olehku saat masih duduk di bangku SMA ketika pelajaran matematika. Saat itu aku tengah putus asa akan kemampuanku belajar matematika karena aku merasa pelajaran itu sangatlah sulit. Seperti kebanyakan temanku waktu itu, aku menanggap palajaran matematika bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan pelajaran yang lain. Toh aku tidak menjumpai hakikat ketuhanan di dalam matematika.

Namun paradigmaku itu seketika buyar saat guru matematika menunjukkan pada seluruh siswa di kelas, termasuk aku, tentang rahasia matematika yang ternyata mengajarkan tentang konsepsi ketuhanan.

Seluruh bilangan dalam matematika jika dikalikan dengan nol (0) maka hasilnya adalah nol (0). Ini memberi kita jawaban bahwa seluruh yang ada di dunia ini tidak akan ada jika tidak ada yang menciptakan. Dunia ini mustahil ada dengan sendirinya. Inilah bukti bahwa Allah swt. itu ada dan Dialah yang menciptakan seluruh yang ada di dunia ini.

Dalan bilangan berpangkat. Seluruh bilangan jika dipangkatkan dengan satu (1) maka ia akan sama dengan bilangan itu sendiri. Dua pangkat satu pasti sama dengan dua, begitu pula dengan satu milyar, jika dipangkatkan satu (1) maka hasilnya adalah tetap satu milyar. Jika diterapkan dalam kehidupan ini, kita dapat menemui kenyataan bahwa begitulah kondisi makhluk Allah swt. siapa saja yang dalam dirinya yang menjadi pangkat tertingginya hanyalah satu, Dzat Tunggal, yaitu Allah swt. maka ia akan mendapati dirinya sendiri secara seutuhnya. Ada korelasi lurus antara mengenal jati diri dan mengenal Allah swt.

Masih dalam bilangan berpangkat. Setiap bilangan jika dipangkatkan dengan nol (0) maka ia akan sama dengan satu (1). Seratus trilliun-pun jika dipangkatkan dengan nol (0) maka ia akan sama dengan satu (1). Artinya, siapapun di dunia ini, manakala yang ada di jiwanya di-nol-kan (dikosongkan) dari hal duniawi maka ia akan mendapati satu (1), Dzat yang Maha Esa, yaitu Allah swt. didunia ini.

Saudaraku, ternyata setiap detail di dunia ini sebenarnya mengajari kita tentang Allah swt.. mari kita renungkan![]